KUMPULAN PUISI ASRUL SANI PDF

Puisi Pujangga Baru adalah unsur yang subliminal, tapi juga tak dapat muda, Asrul Sani, Chairil Anwar, dan Rivai Apin, mengeluarkan satu kumpulan sajak. Contoh Puisi Bahasa Inggris Pilihan – Puisi merupakan bahasa universal yang acap kali Selain puisi-puisi dari penyair Indonesia yang seringkali kita pelajari di sekolah, kita juga bisa .. 20 Contoh Puisi Asrul Sani. Untuk lebih lengkapnya tentang kumpulan Puisi pengarang Asrul Sani Silahkan download aplikasinya, selamat membaca dan semoga bermanfaat.

Author: Goltigar Mikakasa
Country: Japan
Language: English (Spanish)
Genre: Politics
Published (Last): 26 March 2008
Pages: 415
PDF File Size: 4.67 Mb
ePub File Size: 19.19 Mb
ISBN: 647-7-15342-309-5
Downloads: 42282
Price: Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader: Zulkigrel

Dia pernah bekerja sebagai redaktur Balai Pustaka, tapi lebih banyak aktif dalam lapangan pendidikan dan pengajaran di sekolah-sekolah kebangsaan.

Download Kumpulan Puisi Chairil Anwar Lengkap Google Play softwares – a9qwoLYzC83G | mobile9

Dia pun banyak bergerak di lapangan jurnalistik. Dia memimpin majalah Timbul edisi bahasa Indonesia, Sanusi pernah melawat ke India dan menghasilkan sekumpulan puisi berjudul Madah Kelana Pancaran CintaPuspa Mega Banyak perhatiannya tercurah pada sejarah.

Lima lakonnya, empat di antaranya berdasarkan sejarah di Jawa. Dua diantara judul itu dia tulis dalam bahasa belanda, yaitu Airlangga dan Eenzame Garoedavlucht Tiga judul lainnya dalam bahasa Indonesia: KertajayaSandhyakala ning Majapahitdan Manusia Baru Sejarah Indonesia dan Indonesia Sepanjang Masa Dia pun menerjemahkan karya sastra lama dari bahasa Kawi berjudul Arjuna Wiwaha dan Bunga Rampai dari Hikayat lama Sejumlah puisinya ada dalam antologi Pujangga Baru: Prosa dan Puisi susunan H.

Pagi telah tiba, sinar matari Memancar dari belakang gunung, Menerangi bumi, yang tadi dirundung Malam, yang sekarang sudahlah lari. Alam bersuka ria, gelak tersenyum, Berseri-seri, dipeluk si raja siang. Duka nestapa sudah diganti riang, Sebab Sinar Bahagia datang mencium. Mari, O Jiwa, yang meratap selalu Dalam rumahmu, turutlah daku. Apa guna menangisi waktu yang silam?

Mari, bersuka ria, bercengkerema Dengan alam, dengan sinar bersama-sama, Di bawah langit yang seperti nilam. Pada kepalaku sudah direka, Mahkota bunga kekal belaka, Aku sudah jadi merdeka, Sudah mendapat bahagia baka. Aku melayang kelangit bintang, Dengan mata yang bercaya-caya, Punah sudah apa melintang, Apa yang dulu mengikat saya.

Mari kekasih, jangan ragu Mencari jalan; aku mendahului, Adinda kini Mari, kekasih, turut daku Terbang kesana, dengan melalui, Hati sendiri. Di dalam ruang yang kelam terang Berhala Budha di atas takhta, Wajahnya damai dan tenung tenang, Di kiri dan kanan Bodhisatwa. Waktu berhenti di tempat ini Tidak berombak, diam semata; Azas berlawan bersatu diri, Alam sunyi, kehidupan rata. Diam hatiku, jangan bercita, Jangan kau lagi mengandung rasa, Mengharap bahagia dunia Maya Terbang termenung, ayuhai, jiwa, Menuju kebiruan angkasa, Kedamaian Petala Nirwana.

Badan yang kuning-muda sebagai kencana, Berdiri lurus di atas reta bercaya, Dewa Candra keluar dari istananya Termenung menuju Barat jauh di sana. Panji berkibar di tangan kanan, tangan kiri Memimpin kuda yang bernapaskan nyala; Begitu dewa melalui cakrawala, Menabur-naburkan perak ke bawah sini.

  ELECTRORHEOLOGICAL DAMPER PDF

PUISI-PUISI SANUSI PANE

Bisikan malam bertiup seluruh bumi, Sebagai lagu-merawan buluh perindu, Gemetar-beralun rasa meninggikan sunyi. Bumi bermimpi dan ia mengeluh di dalam Mimpinya, karena ingin bertambah rindu, Karena rindu dipeluk sang Ratu Malam. Aku memandang tersenyum arah ke bawah: Bandung mewajah di dalam kabut. Jauh di sana bermimpi Gede-Pangrango, Seperti pulau dalam lautan awan.

Asni kelabu, Alam muram. Dan ke dalam hatiku, Masuk perlahan Rindu dendam. Jiwaku meratap bersama jiwa Gembala yang bernyanyi dalam lembah. Ratap melayang bersama suara Kedalam kemuraman Kehilangan. Lumpulan biru yang suci, harapan cinta, Dikelilingi pegunungan damai mulia.

Bawa daku kebenua termenung berangan, Ke tanah tasik kesucian memerak silau, Tersilang sungai kekuatan kilau kemilau, Dibujuk angin membisikkan kenang-kenangan Ingin jiwa pergi ke sana tidak terkata: Hatiku dibelah sengsara setiap hari, Keluh kesah tidak berhenti sebentar jua. Kau datang dengan menari, tersenyum simpul, Seperti dewi, putih-kuning, ramping-halus, Menunjukkan diri, seperti bunga yang bagus.

Dalam sinar matahari, membuat asril Di dalam hati berahi yang suci-permai. Jiwa termenung, terlena dalam samadi, O Melati, memandang kau seperti Pamadi, Kebakaan kurasa, luas, tenang dan damai Engkau tinggal sebagai bunga ssni taman Kenang-kenangan: Aku menyusun kembang melati Di bawah bintang tengah malam, Buat menunjukkan betapa dalam Cinta kasih memasuki hati.

Asrul Sani by Hanny Natasha on Prezi

Singgih Aku merasa tenaga baru Memenuhi jiwa dan tubuhku; Hatiku rindu ke padang Kuru, Tempat berjuang, perang selalu. Bernyala ke dewan dalam hati. Tidak ada yang dapat melintang Pada jalan menuju maksudku: Menang berjuang bagi Ratuku. Di balik gunung, jauh di sana, Terletak taman dewata raya, Tempat tumbuh kesuma wijaya, Bunga yang indah, penawar fana.

Hanya sedikit yang tahu jalan Dari negeri sampai ke sana. Lebih sedikit lagi orangnya, Yang dapat mencapai gerbang taman. Turut suara seruling Krisyna, Berbunyi merdu di dalam hutan, Memanggil engkau dengan sih trisna. Engkau dipanggil senantiasa Mengikuti sidang orang pungutan: Engkau menurut orang biasa. Hatiku kosong, tanganku hampa, Tidak ada yang sudah tercapai Aku bermimpi di dalam tapa Mengingat untung termenung lalai O Krisyna tiadakanlah kembali Meniup suling di tanah airku.

Biarkan daku sekali lagi Jatuh ke dalam jurang gulita, Supaya lupa, tidak bercita. Di sana, dalam duka nestapa, Aku merasa seorang peminta Di depan gapura kasih cinta Jiwa menjerit, dicakra duka Akh, Kekasihku, memanggil tuan. Hanya Jamna membalas seruan. Kepada Ki Hajar Dewantoro Dalam kebun di tanah airku Tumbuh sekuntum bunga teratai; Tersembunyi kembang indah permai, Tidak terlihat orang yang lalu.

Akarnya tumbuh di hati dunia, Daun berseri Laksmi mengarang; Biarpun ia diabaikan orang, Seroja kembang gemilang mulia.

Biarpun engkau tidak dilihat, Biarpun engkau tidak diminat, Engkau turut menjaga Zaman.

  HISTORIA COELESTIS BRITANNICA PDF

Di mana harga karangan sajak, Bukanlah dalam maksud isinya, Dalam bentuk, kata nan rancak Dicari timbang dengan pilihnya. Tanya pertama ke luar di hati, Setelah sajak dibaca tamat, Sehingga mana tersebut sakti, Mengingat diri di dalam hikmat. Rasa bujangga waktu menyusun, Kata yang datang berduyun-duyun Dari dalam, bukan nan dicari Harus kembali dalam pembaca, Sebagai kjmpulan di muka kaca, Harus bergoncang hati nurani.

Aku terkenang akan Nataraja. Genta candi, merdu, bersahut-sahutan. Sanoesi Pane dikatakan mula-mula menulis sajak-sajak yang dimuat dalam majalah-majalah di Jakarta dan Padang. Judul Anggota Penulis Label. Lain-lain Koleksi Puisi Sanusi Pane. PAGI Pagi telah tiba, sinar matari Memancar dari belakang puuisi, Menerangi bumi, yang tadi dirundung Malam, yang sekarang sudahlah lari. Demikian jiwaku lenyap sekarang Dalam kehidupan teduh tenang.

Tersembunyi kembang indah permai, Tidak terlihat orang yang lalu. Biarpun ia diabaikan orang, Seroja kembang gemilang mulia. Seperti matari mencintai bumi, Memberi sinar selama-lamanya, Tidak meminta sesuatu kembali, Harus cintamu senantiasa.

Dilangiti biru yang suci, harapan cita, Dikelilingi pegunungan damai mulia. Bawa daku ke benua termenung berangan, Ke tanah tasik kesucian memerak silau, Tersilang sungai kekuatan kilau kemilau, Dibujuk angin membisikkan kenang-kenangan. Ingin jiwa pergi ke sana tidak terkata: Hatiku dibelah sengsara setiap hati, Keluh kesah tidak berhenti sebentar jua. Pabila gerang tiba waktu bersua?

Betapa kami Tidakkan suka, Memandang muka Sijantung hati. Jiwa menjerit disayat rawan. Aku bermimpi di dalam tapa.

Mengingat untung termenung lalai. Biarkan daku sekali lagi. O, Pujangga, kalau dunia gundah gulana, Engkau bersila, jiwa tersenyum jua, Sebab merasa kegemetaran nyawa dunia, Engkau, Penyanyi lagu mulia. Aku bermimpi dibawa arus ke darat sejahtera di bawah langit bertabur bintang. Badai turun dan setinggi gunung gelombang naik, mengem- pas-empaskan daku seperti tempurung. Sudah bertahun aku menanti, sudah bertahun aku mencari.

O, Kekasihku, turunkan rahmatmu ke dalam taman hatiku. Bunga kupelihara dalam musim berganti, bunga kupelihara dengan cinta berahi. O, Kekasihku, buat jiwaku bersinar-sinar! O, Keindahan, jiwaku rindu siang dan malam, hendak me- mandang cantik parasmu.

Datanglah tuan dari belakang pegunungan dalam ribaan pagi tersenyum. O, beri daku tenaga, supaya aku bisa bersama tuan melayang sqni garuda menuju kebiruan langit nilakandi. Kita duduk berdua saja, terasing dari yang lain.

Biarkan daku membunyikan kecapi dan berceritera dengan bernyanyi. Siapa tahu ada orang yang berjuang yang rindu kepada kedamaian dan keteduh-tenangan. Ia mendengar beberapa lagu dan ia terkadang menyanyikan- nya dalam malam duka nestapa.

O, Adinda, barangkali ia teringat akan kekasihnya dan pan- tunku menghiburkan hatinya.